IKAN. UDAN. SAYA DAN KAMPUNG DAGOUTO

(Tugu mogo, Makii, Momogi, Epaa, Momogi, Piipa pugaida, DAGOUTO pugaida WEGEE Pugaida, PANIAI pugaida, PAPUA pugaida, UJUNG bumi Mogouto pigutita maki bego-bego tetiya)

Nogei Widogai Nauwai” (kita ke tanjung sudah). ajakan nogei (mereka adalah sahabatku) yang telah lama kita disini. Nogei amoye Gobai amoye yeimo amoye degei amoye Mote Moteiboo dll. Satu tanggan pegang Ubi Bakar, satu tanggan Ikan Bakar dan Udan. lari keluar dari rumah dan duduk dingin2 sambil makan Ikan dan ubi tadi. nontong spitbot berlari pulang pergi dari Kampung ke kota. Pandangan dari pugaida selalu terlihat, disana dimiya, bobaigo, okeitadi, yagai, tuguwai, agadide, Kebo hingga kadang lewat di kali weyaone inilah pandangan bijih mata ujung wegepugaida ko tega sekali bisa melihat dunia paniai, kiri kanan sampai belakang. Pada akhirnya apa si dulu kolam ini tempat kitorang punya penangkapan ikan, udan dll samping itu kali weyaone tempat kita bermain, bermandi. Tadinya selesai makan, matahari belum pigi lewati pundak gunung pintu angin disana. berlari-lari naik turung tanjung diatas itu. kejar menggejar saya dengan teman-teman tadi, saya hingga matahari menutup mata setelah pigi lewat gunung. pulang kerumah lihat mama dong sudah siapkan makan malamnya. Ikan, Udan rebus, sayur dan Ubi. setiap malam makan Ikan dan Ubi.

Selamat jalan NONE MENASE E GOBAI bersama Bapa di alam sana. saya tidak lupa, cerita di tanjung kampung kita besar dengan Ikan danau paniai kawasan timur tenga DAGOUTO, Udan dan Ubi. Igatan paling istimewa ada di kampung Dagouto. bermain bersama dinggin 80° dan berlaga telanjang kaki kosong. itulah saya diwaktu kecil. terimakasih Kampung yang memberikan makanan sepanjang hidup Ikan dan Udan seakan produk me-pago.”

Segala sesuatu yang ada didalam ujung bumi pugaida PIIPA DAGOUTO
Tempatnya yang permai ini, sungguh indah sekali nikmat pemandangannya yang cukup  luas disitulah tempat kita dibesarkan. Masyarakat sudah tahu bernelayang, werawat dan menangkap yang telah menjadi roti kehidupannya selama bertahun-tahun. Banyak ahli mengakui ikan mas itu obat kecerdasan sumber berlogika cukup tinggi oleh karena itu, “Kita sedang ada penguni ujung bumi Tenga paniai membersihkan dan memberikan makanan Ikan  di kolam dulunya rahasia bagi kita.

   “Historis singkat”

Pada abad 1939. Piipa,Taman Eden,
Injil setelah, udii yuwo pertama Dagouto
Ikan kolam, Ikan mas, Udan 7 macam, Ikan, Gurami, Ikan Leleh. Dll.
Dunia kecil ini dibangun dan dilihat sebagai Eden keluarga dibumi. Tempat mereka kembali bersahabat dengan alamnya yang banyak menyediakan berkat untuk keperluan hidup. Mengelola alam ini sebuah proses mewarisi, dan anak-anak kita ini ahli waris dan pemilik masa depan suku dan daerah ini. “Tuhan menempatkan di bumi khususnya diPiipa wege pugaida ujung bumi iboo makiyo di sebut surga kecil jatuh ke bumi pugaida (PIIPA Dagouto WEGE).

   “Ujung Bumi Dahulu Torang Menjalani Hidup Kita BERSAMA”

TAHUN 2000an lalu saya masi kecil; hidup dan besar di kampung dagouto,” saat itu pula dipunggung mamaku sih anaknya selalu dukung dan dingendong. Demi anak sangat tidak mudah air mata dan karya-karya seorang mama kepada anaknya. mama menjadi pegawas ibu guru bernelayang hidup. “Saat itu pula mamaku mampu mengalakan situasi apapun.

Seakan mama dibentuk sebuah kapal mama mampu berlabu arah danau paniai entah bukit-gubung menembus. Saya terbayang kembali setelah ku menyeberang bukit wege pugaida ujung, pulau berbatu-batuan pasir yang dulunya tidak perna ketauhi semua orang kini sudah tahu semua orang dunia selalu berubah {AWEGA POPA/UWAGA POPA} bukit yang tersembunyi kini terlihat, rawah yang tersembunyi kini terlihat pula, demi cinta kampung ada waktu kita pigi lagi dan ada waktu kita kembali lagi semua kembali ke induk ujung bumi Tenga paniai.

SURGA DIBUMI DI DANAU PANIAI SUMBER KEHIDUPAN.

Lihatlah disana danau yang begitu indah dan permai Kemarin tgl 16/04/ 2022 tepat hari Senin sore pukul 03:15, sebelum matahari terbenam, anak kampung sedang bergerak berjalan di jalan baru wegeida mereka ramai mengejar bola dengan teriakan khass budaya hidup mereka yang diajarkan orang tua mereka di masing-masing gubuk/kampung halaman sekitarnya, sebelum malam membawahnya hingga no pagi kembali besok hari. mereka waita, teriakan semangat sebelum main bola di stadion lokal di wegepugaida mereka dimulai dan teriakan adalah kami siap menjadi pemain-pemain lokal sementara menunggu Umur dan menjadi pemain nasional.

Saya rindu ketika melihat bentuknya seperti surga dibumi jatu kedunia PANIAI.
Danau yang begitu besar kasihnya selalu mengalir seakan-akan tuhan hadir dibumi wisel paniai pula,
Satu kebanggaan tersendiri”
Saya hidup dan besar dari makanan alamiah ikan, udan, ubi dan masih banyak makanan pokok alamiah.

THN 1990an Mamaku Epa Gobai perna membawa saya di danau Paniai mama juga guru nelayan mulai dari danau kopapeku, aidoga, wegitadimi, hingga Paniai begitu luasnya itu” hingga mama pernah cerita soal danau Paniai pun hal yang sama yakni danau itu adalah sumber kehidupan manusia paniai bukan saja manusia-manusia di pinggiran seperti kawasan wegeuto saja tetapi juga danau Paniai itu sumber memberi hidup sekitar wilayah mepago mamapun sujud bangga kepada sangkalig” terimakasih tuhan yang punya segudang kehidupan yang mana tiada akhir lamanya.

Sebelum malam sore itu saya melihat bagian arah-arah ke danau itu betapa kehinaan saja gurih pengaruh di tetesan air mataku begitu hitam yang menawan nan asri, engkau menyimpan sejuta misteri kehidupannya.
Engkau terbentuk danau rahasia satu klas kayak peta pulau papua
Nan indah mempesona setiap kalbu. Danau paniai, engkau tertulis sejarah
Sejarah di sejak dahulu hingga dini”
Danau paniai, hitam yang menawan setiap insani sebuah identitas Melanesia punya arti dan makna yang mendalam

Hari Senin sore sekitar jam 03:15 di bukit piipa. Rupanya say dan sahabat saya Nogox dan Sepainya kita saling berbagi cerita dan ceria sore itu nan salam sambil bertanya kabar dan soal perjalanan kita. beberapa menit kemudian, kami bertiga berangkat ke samping kali weya-onee di kampung Dagouto

Saya diajak duduk di kali Weyaone sambil mancin ikan, kebutuhan untuk sarapan sore, ajakan ini datang dari
N O G E I Nopi Gobai mulai dari pagi hingga sore ini adalah kebiasaan kita dari masa kecil hingga dewasa, punya pilihan yang bagus untuk kami yang hidup besar di muara danau Paniai” kami mengisi karena kebiasaan dari semua pengalaman itu,

Sesudah jalan dan duduk santai Nogei Nogox mulai ajak cerita semestinya Nogei Nogox sudah siap kopi senang dari timika (kopi 15 kemasan), Kita lagi Menuju tibah di wegepugaida ujung kampung, demi membela dingin. Hari sudah mulai sore – gelap, semakin malam semakin dingin. Bertemu keluarga, sedang dalam gubuk tua bersama tungku api Kita bersalaman.

Kita duduk dalam gubuk Nogei Nogox, cerita sudah ramai dari berbagai sudut. Melingkar api penghanggat tubu yang berdingin. Memasak makan malam dan sebentar lagi kopi senang dari timika itu, cukup untuk dingin. Dingin yang mempersatukan kita, ada tungku dan kopi senang di suatu sudut kampung (Dagouto surga dibumi) Cerita – selebihnya terimakasih untuk waktu yang bermakna.

“Dagouto adalah tempat kita menjalani hidup kita bersama” (DAGOUTO-is where we live our life)

Bukan saja generasi Milenial zaman ini melainkan zaman ke zaman entah dimanapun hal itu terjadi tetapi disini cerita khusus saya dan kehidupan kampung Dagouto namun hal itu pula  sebagai bentuk kepedulian terhadap alam lingkungan dan hendak di cerita Oleh sebab itu, TAHUN 19990an lalu saya masi kecil; hidup dan besar di kampung dagouto tadi” saat itu pula dipunggung mama-mama kampung selalu dukung dan dingendonng apalagi di nelayan danau Paniai adalah sudah terbiasa namun sangat tidak mudah air mata dan karya-karya seorang mama kepada anaknya.” mama menjadi pegawas guru hidup dan kehidupannya.” sungguh lagi pula mama Epa Gobai dibesarkan saya dari sini kampung-ku-(Dagouto).

Tidak hanya itu, saat itu pula mamaku mampu mengalakan situasi apapun demikian; hendak sujudlah bangga betapa indahnya kampung kita Dagouto ini sepertinya terbentuk  pulau irian jaya menjadi surga kecil jatu ke bumi ditenga paniai papua sungguh entah, apapun yang terjadi biarkan aku tinggal hidup bersama dia dan aku entah siapa saja namun, sampai kapanpun entah itu dimana saja namun terpisah ketika malapetaka akan terjadi,” sehingga sebelum terjadi apa itu malapetaka,” biarlan aku tinggal hidup same kampung halamanku (Dagouto) ku-ber-terimakasih kepada maha pencipta langit dan bumi segala sehisinya kepadamu sangkalig untuk itu pula,,,, aku di lahirkan oleh mamaku dan dibesarkan menjadi manusia terunik” (puji tuhan) atas impian tuhan kepada manusia dibumi”.

Kemudian, seakan mama dibentuk sebuah kapal mama mampu berlabu diantara danau paniai entah bukit-gubung wegeida menembus hingga pesisir juga rawa-rawa dari lembah gunung hingga danau dan rawa mama selalu juang dan korbang diri segala macam” engkau lebih kuat dari mesin, dan engkau memiliki nilai keberadaan mama-mama di Papua itu melewan roh-roh jahat sungguh harapan tidak hilang Tuhanlah yang punya segalanya akan membalas.

Kehidupan sehari-hari mestilah tidak hilang jadilah manusia menjadi mengukir” (MENGUKIR) Mengukir bukanlah sebuah tugas yang harus dikerjakan oleh seorang pelukis atau pemahat patung melainkan, sebuah tuntutan perbuatan setiap manusia baik pekerjaan nyata maupun tindakan moril yang harus dilakukan dalam mengapai kehidupan dibumi.

Perbuatan manusia entah itu baik maupun jahat adalah sebuah perbuatan yang kita goreskan sebagai ukiran yang akan dibaca oleh semua  manusia. Orang lain akan mengenang ketika mereka melihat goresan goresan yang kita mengukir.

Keindahan dunia yang luas ini diciptakan untuk manusia agar dapat menikmati, menjaga, mengelolah. Manusia mempunyai peran terpenting agar mengelolah dan mengukir seindah mungkin.

Untuk mengukir sesuatu berawal dari kita dan dalam diri manusia sesuai talenta yang dimiliki. Dengan adanya perkembangan dan kemajuan yang diliputi dengan ERA kerakusan maka kehidupan manusia hidup dalam tekanan dan intimidasi maka tuntutan zaman ini menuntut kita harus jadi martir martir perubahan zaman karna hal itu akan mengenang kita. Itulih sebuah ukiran.

                 Salam Hangat .

•| Penulis adalah laki selera Abet Mote anak nota bakar tinggal di kampung Dagouto |•

Tinggalkan Komentar