Membaca dan Menulis Untuk Kesehatan

Bung itlay

Saya ini kerap jatuh sakit. Sakitnya macam-macam. Kadang saya berobat dan minum obat berulangkali. Cara ini memang sering membantu saya, tapi juga tidak mempan sekali pada sakit tertentu.

Banyak cara lain untuk kita mencari jalan keluar. Semisal, mencari orang yang bisa urut saya atau cari daun gatal supaya saya gosok di tempat yang sedang sakit dan menderita, seperti tulang belakang, kaki, kepala atau dimana saja.

Dari sekian cara yang saya tempuh, salah satu cara di samping main gitar dan bernyanyi, yang bisa membantu saya, meringankan beban pikiran, dan rasa sakit adalah membaca dan menulis buku.

Membaca  tentang apa saja. Entahlah gejala-gejala sakit atau opini lain di internet ataupun membaca buku tertentu sambil duduk dan baring-baring di tempat tidur, dan di mana saja.

Saya rasa itu bisa mengurangi rasa bosan yang membuat saya sial dengan rasa sakit. Bahkan rasa kesal yang membawa saya untuk bunuh diri atau gantung diri agar tidak menderita seperti ini lagi.

Membaca pada saat sakit dan menderita, bisa membantu dan mengalihkan perhatian kita kepada kondisi kesehatan kita yang penuh kekhawatiran, kemudian menjadi ringan dengan memusatkan perhatian hal-hal baru di dalam buku.

Secara psikis, membaca pada saat orang sakit akan meringankan beban pikiran dan perasaan sedih, marah, dan lain sebagainya yang menimpa kita dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak butuh penghiburan selamanya. Tidak harus lari ke pantai untuk menghilangkan rasa penat sambil menikmati pemandangan alam yang indah.

Kita bisa membuang rasa lelah dan mengantikannya dengan membaca. Kita juga bisa membawa diri kita dan pikiran kita untuk merefreshing di dalam bacaan-bacaan tertentu.

Sedangkan manfaat dari aktifitas menulis juga kurang lebih sama. Menulis pada saat sakit, bisa meringankan beban dan memberikannya kebugaran tubuh dan jiwa raga saya.

Menulis dapat mengungkapkan segala bentuk perasaan dengan jujur. Secara jujur kita bongkar rasa sakit yang mengurung kita di tempat pembaringan. Katakanlah di rumah atau rumah kematian, eh maksudnya rumah sakit.

Menulis pada saat sakit akan berbeda nilainya dengan menulis pada saat sehat-sehat. Pada saat kita sehat, kita bisa mengada-ada tulisan. Karang-karang tulisan dengan paruh emosi palsu.

Tetapi beda dengan menulis pada saat sakit. Kita bisa tuangkan setiap perasaan, kesedihan dan air mata secara jujur. Tulisan demikian selalu memberiku bobot yang luar biasa.

Aktivitas menulis pada saat sakit, bisa membantu orang agar membongkar beban pikiran, lalu kemudian melepaskannya dalam kertas ataupun dalam monitor handphone ataupun laptop.

Saya sudah pernah mencobanya, bahwa menulis dalam keadaan sakit, paling tidak dalam 10-15 menit, bisa membantu saya agar melepaskannya sebagian beban yang menghantui saya sendiri.

Berapa hari yang lalu, saya jatuh sakit. Apa yang saya alami adalah merasa terbeban berat. Pikiran sudah lain-lain. Karena kondisi saya makin buruk.

Ketika saya membaca buku “Zakeus Pakage dan Komunitasnya: Wacana keagamaan pribumi, perlawanan sosial-politik dan transformasi sejarah orang Mee, Papua” karya Benny Giay, saya mulai rasa lain dan itu legah.

Terus saya pergi ambil kabel cas di aula pastoran Paroki Gembala Baik Abepura. Selanjutnya, saya menyempatkan diri untuk mulai menulis tentang agama komunal hingga modernitas di Nduga.

Dengan ini saya sadar bahwa dengan cara membaca 5 menit pada setiap pagi, siang, sore dan malam cukup membantu saya untuk menikmati kebebasan dari penjarah rasa sakit.

Tentu aktivitas menulis juga cukup meringankan beban pikiran saya akibat penyakit yang saya derita. Keduanya, bukan segalanya, tetapi sekurang-kurangnya bisa meringankan beban tertentu dalam pikiran dan seterusnya.

Membaca dan menulis bukan obat, juga bukan herbal. Akan tetapi saya percaya bahwa cara ini: membaca dan menulis merupakan salah satu cara yang tepat untuk meringankan beban sakit.

Sekali lagi saya percaya bahwa aktivitas membaca dan menulis bisa membantu orang meringankan beban pikiran, menjaga imunitas tubuh, mengurangi rasa sakit, dan lain sebagainya..

Jika tidak percaya kita sama-sama mencobanya. Dampaknya tak seberapa besar, tapi bahwa 10-20 persen penderitaan orang bisa diatasi dengan cara membaca dan menulis buku.

PN| Rabu, 09 November 2022.

Tinggalkan Komentar